News Update :

Terbaru

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Belajar Bahasa Inggris : Membedakan to do and to make

Tuesday, August 21, 2012



Dalam bahasa inggris kadang kita tidak dapat menggunakan konteks yang harus di pakai dalam memasangkan dua kata. Berikut adalah beberapa konteks kata yang dapat membedakan to do and to make. Semoga bermanfaat.
To Do
  • to do a favour
  • to do a project
  • to do a test
  • to do an assignment
  • to do an exam
  • to do badly
  • to do business
  • to do damage
  • to do exercise
  • to do good
  • to do harm
  • to do homework
  • to do housework
  • to do nothing
  • to do research
  • to do something
  • to do some letter-writing
  • to do some reading
  • to do some studying
  • to do some writing
  • to do the accounts
  • to do the cleaning
  • to do the dishes
  • to do the ironing
  • to do the laundry
  • to do the math
  • to do the maximum
  • to do the minimum
  • to do the paperwork
  • to do the shopping
  • to do the vacuuming
  • to do time
  • to do work
  • to do your best
  • to do your duty
  • to do your hair
  • to do your nails
  • to do your job
  • to do your makeup
  • to do 50 miles per hour
To Make
  • to make a booking
  • to make a bundle
  • to make a call
  • to make a cake
  • to make a choice
  • to make a comment
  • to make a complaint
  • to make a compromise
  • to make a deal
  • to make a decision
  • to make a difference
  • to make a fire
  • to make a fool of yourself
  • to make a fortune
  • to make a fuss
  • to make a habit
  • to make a move
  • to make a phone call
  • to make a point
  • to make a presentation
  • to make a profit
  • to make a promise
  • to make a remark
  • to make a reservation
  • to make a sales call
  • to make a sound
  • to make a speech
  • to make a suggestion
  • to make a threat
  • to make a visit
  • to make amends
  • to make an appearance
  • to make an appointment
  • to make an attempt
  • to make an enquiry
  • to make an exception
  • to make an excuse
  • to make an offer
  • to make arrangements
  • to make believe
  • to make friends
  • to make fun
  • to make changes
  • to make corrections
  • to make do
  • to make love
  • to make money
  • to make noise
  • to make peace
  • to make plans
  • to make a profit
  • to make progress
  • to make sense
  • to make someone angry
  • to make someone happy
  • to make (someone) mad
  • To make someone sad
  • to make someone’s day
  • to make sure
  • to make time
  • to make trouble
  • to make dinner
  • to make lunch
  • to make breakfast
  • to make a snack
  • to make tea / coffee
  • to make a mess
  • to make a mistake
  • to make the bed
  • to make time
  • to make war

Menggugat Sekolah Mahal

Monday, May 14, 2012


                       Menggugat Sekolah Mahal

Salah satu kebutuhan pokok manusia modern dewasa ini, selain sandang, pangan, dan papan, adalah pendidikan. Di zaman ini, bersekolah merupakan sebuah keniscayaan. Sekolah pada dasarnya merupakan bekal seorang anak manusia di masa depan agar ia menjadi manusia dewasa yang berilmu, beradab, dan mandiri.
Sejarah pun mencatat, perubahan sosial acap kali digerakkan oleh kaum terpelajar dan orang-orang terdidik yang memiliki tanggung jawab pada masyarakatnya. Pergerakan nasional kita yang berawal pada permulaan abad ke-20 merupakan akibat munculnya sejumlah kecil kaum muda terpelajar yang peduli pada nasib bangsanya, misalnya Dr. Sutomo, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Suwardi Suryaningrat, Tirto Adi Suryo, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka.
Mereka ini merupakan produk politik etis Van Deventer, yang membuat segelintir lapisan elite kaum pribumi bisa mengecap pendidikan dan pada gilirannya terbuka matanya melihat penderitaan bangsanya yang terjajah.
Demikian pula dua kali pergantian kekuasaan yang ditandai tumbangnya rezim otoriter pada 1966 dan 1998 tak bisa dilepaskan dari peran gerakan mahasiswa.
Di zaman merdeka ini, selayaknya anak-anak bangsa mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri dan berbakti pada bangsanya di masa depan melalui pendidikan yang membebaskan. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Dunia pendidikan kita diruwetkan oleh sejumlah masalah, dari komersialisasi pendidikan, rendahnya tingkat kesejahteraan guru, penggusuran bangunan sekolah untuk dibuat lahan bisnis, praktek kekerasan dalam dunia pendidikan, hingga masalah pengangguran yang menghantui para lulusan sekolah.
Salah satu masalah yang juga mengemuka dari sistem pendidikan kita dewasa ini adalah orientasi pendidikan kita yang cenderung hanya mendorong para lulusannya menjadi objek dunia industri dan kapitalisme global, bukannya menjadi subjek mandiri yang berilmu dan berwawasan luas.
Hal-hal negatif dari sistem pendidikan seperti itu telah dicermati secara kritis oleh para pemikir pendidikan, seperti Ivan Illich dan Paulo Freire, dalam buku-bukunya yang telah diterjemahkan di sini, antara lain “Pendidikan Kaum Tertindas” (1984) dan “Politik Pendidikan, Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan” (2002). Sejumlah penulis lokal pun telah menulis kritik terhadap permasalahan pendidikan kita, antara lain Roem Topatimasang melalui bukunya “Sekolah Itu Candu” (1999) dan Francis Wahono dalam “Kapitalisme Pendidikan” (2004).
Persoalan-persoalan kelam dalam dunia pendidikan kita, terutama menyangkut betapa mahalnya biaya pendidikan kita dewasa ini, kembali dibahas secara kritis dalam buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah!” karya Eko Prasetyo.
Membaca buku ini, kita disadarkan akan banyaknya kerancuan dan ketidakberesan dalam sistem pendidikan kita yang berujung tingginya biaya sekolah, sehingga banyak lapisan masayarakat berpenghasilan rendah tak mampu menjangkaunya. Akibat terburuknya adalah sulit terjadi lompatan sosial dan ekonomi dalam masyarakat, di mana mereka yang miskin terancam terus hidup melarat secara turun-temurun karena tak mampu menaikkan harkat hidupnya melalui pendidikan.
Seperti tersurat dalam buku ini, pendidikan seharusnya bisa diakses dengan biaya murah. Pendidikan harus bisa dijangkau oleh rakyat miskin. Posisi orang-orang miskin yang selama ini terlantar perlu dibangkitkan, dan negaralah yang pertama kali perlu mengambil tanggung jawab dengan melakukan langkah-langkah struktural yang sistematis. Pendidikan harus bisa menjadi sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia secara lahir-batin, yang pada gilirannya akan memajukan bangsa kita secara kolektif.
Eko mampu melengkapi buku ini dengan begitu banyak data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk kliping koran. Buku ini menjadi makin menarik karena dilengkapi ilustrasi komik yang bagus, cerdas, dan komunikatif. Eko juga tak hanya pandai mengkritik. Dalam bagian akhir buku ini, ia mengusulkan sejumlah langkah nyata untuk mewujudkan sekolah murah, antara lain dengan merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN, pemotongan gaji para pejabat tinggi yang dialokasikan pada dunia pendidikan, menarik pajak pendidikan dari perusahaan-perusahaan besar, serta melakukan investigasi dan tindakan tegas terhadap semua pihak yang melakukan korupsi atas anggaran pendidikan.
Walaupun terkadang terasa agak provokatif, buku ini membuka mata kita bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem pendidikan kita, sehingga hanya orang-orang yang mampu secara ekonomi yang bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga setinggi-tingginya, dan bahwa ada sekian banyak penyimpangan yang perlu diluruskan dalam praktek dunia pendidikan kita selama ini.
Anton Kurnia, penulis buku “Dunia Tanpa Ingatan: Sastra, Kuasa, Pustaka” (2004) dan kumpulan cerpen “Insomnia” (2004)

Tantangan Lulusan Sarjana di Era Informasi

       Tantangan Lulusan Sarjana di Era Informasi

     Ketika para sarjana memadati berbagai arena bursa kerja untuk menawarkan ilmu dan ijazah mereka, iklan-iklan penerimaan mahasiswa baru juga nyaris memenuhi halaman-halaman surat kabar. Dua fenomena tersebut ironis. Promosi Perguruan Tinggi untuk menjaring calon mahasiswa sama "gencarnya" dengan peningkatan pengangguran lulusan. Di sisi lain, perlu diajukan pertanyaan, kualifikasi apakah sebenarnya yang disyaratkan oleh para pencari tenaga kerja lulusan sarjana Perguruan Tinggi ini ?
     Jawaban yang diperoleh para peneliti umumnya adalah campuran kualitas personal dan prestasi akademik. Tetapi pencari tenaga kerja tidak pernah mengonkretkan, misalnya, seberapa besar spesialisasi mereka mengharapkan suatu program studi di Perguruan Tinggi. Kualifikasi seperti memiliki kemampuan numerik, problem-solving dan komunikatif sering merupakan prediksi para pengelola Perguruan Tinggi daripada pernyataan eksplisit para pencari tenaga kerja. Hasil survei menunjukkan perubahan keinginan para pencari tenaga kerja tersebut adalah dalam hal kualifikasi lulusan Perguruan Tinggi yang mereka syaratkan.
     Tidak setiap persyaratan kualifikasi yang dimuat di iklan lowongan kerja sama penting nilainya bagi para pencari tenaga kerja. Dalam prakteknya, kualifikasi yang dinyatakan sebagai "paling dicari" oleh para pencari tenaga kerja juga tidak selalu menjadi kualifikasi yang "paling menentukan" diterima atau tidaknya seorang lulusan sarjana dalam suatu pekerjaan.
     Yang menarik, tiga kualifikasi kategori kompetensi personal, yaitu kejujuran, tanggung jawab, dan inisiatif, menjadi kualifikasi yang paling penting, paling dicari, dan paling menentukan dalam proses rekrutmen. Kompetensi interpersonal, seperti mampu bekerja sama dan fleksibel, dipandang paling dicari dan paling menentukan. Namun, meskipun sering dicantumkan di dalam iklan lowongan kerja, indeks prestasi kumulatif (IPK) sebagai salah satu indikator keunggulan akademik tidak termasuk yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan.
     Di sisi lain, reputasi institusi Pendidikan Tinggi yang antara lain diukur dengan status akreditasi program studi sama sekali tidak termasuk dalam daftar kualifikasi yang paling penting, paling dicari, ataupun paling menentukan proses rekrutmen lulusan sarjana oleh para pencari tenaga kerja.
Ada kecenderungan para pencari tenaga kerja "mengabaikan" bidang studi lulusan sarjana Dalam sebuah wawancara, seorang kepala HRD sebuah bank di Cirebon menegaskan, kesesuaian kualitas personal dengan sifat-sifat suatu bidang pekerjaan lebih menentukan diterima atau tidaknya seorang lulusan Perguruan Tinggi. Misalnya, posisi sebagai kasir bank menuntut kecepatan, kecekatan, dan ketepatan. Maka, lulusan sarnaja dengan kualitas ini punya peluang besar untuk diterima meskipun latar belakang bidang pendidikannya tidak sesuai. Kepala HRD itu mengatakan, "Saya pernah menerima Sarjana Pertanian dari Bogor sebagai kasir di bank kami dan menolak Sarjana Ekonomi manajemen dari Bandung yang IPK-nya sangat bagus."
     Kualifikasi-kualifikasi yang disyaratkan dunia kerja tersebut penting diperhatikan oleh pengelola Perguruan Tinggi untuk mengatasi tidak nyambung-nya antara Perguruan Tinggi dengan dunia kerja dan pengangguran lulusan. Jika pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru dimaksudkan untuk menyaring mahasiswa sesuai kompetensi dasarnya, perhatian pada kualifikasi yang dituntut pasar kerja dimaksudkan sebagai patokan proses pengolahan kompetensi dasar tersebut. Untuk itu semua, kerja sama Perguruan Tinggi dan dunia kerja adalah perlu.

Pendidikan Tampa Kekerasan

                                 PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN
 Mangunwijaya  
 Maka timbullah pertanyaan para kaum tua modern: dapatkah kita menciptakan sistem pendidikan secara efektif tanpa kekerasan? Khususnya dalam bidang religius? Bukan: Tanpa hukuman. Tetapi: tanpa kekerasan. Jawabnya jelas dapat. Dan bila itu belum umum, maka cita-cita itu harus dirintis oleh para pandu yang tidak perlu banyak jumlahnya, tetapi berkualitas tinggi.

Dari sejarah kita mendapat bukti, betapa kekerasan tidak pernah berbuah baik. Kekerasan, khususnya terhadap anak, baik dalam bentuk kata-kata kasar keras maupun dalam bentuk perlakuan pukulan, sabetan, tamparan, sepakan, penganiayaan-penganiayaan lain, dan sebagainya akan menelorkan kekerasan baru. Sampai pada tingkat mahasiswa pun, penggojlogan, yang katanya dilakukan demi pendidikan mahasiswa sebelum masuk dunia kampus ternyata justru membuat lebih parah perlakuan-perlakuan sadis yang berganda, sampai untunglah itu dilarang oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Melalui kekerasan, si anak kelak dapat tumbuh menjadi kaum penganiaya dan pemeras kejam pada tingkat nasional maupun internasional.

Namun hukuman pada saatnya yang tepat masih diperlukan. Tetapi pemberian hukuman seyogyanya konstruktif menumbuhkan rasa tanggung jawab. Misalnya, terbawa oleh marahnya seorang anak mengotori lantai yang baru saja dibersihkan mengkilat oleh kakaknya. Anak dihukum menghilangkan kotoran itu, atau menyemir sepatu kakak itu. Maksudnya, agar si anak tahu bahwa dia harus MENANGGUNG perbuatan buruknya. Kedua, dia harus belajar hidup bersama dengan orang lain, dan jangan hanya mementingkan diri sendiri.

Begitu juga, kalau seorang anak bersikap tidak sopan, janganlah itu diberi landasan karena dia lebih muda, jadi menghormati kaum tua. Bukan karena tua, beliau harus dihormati, tetapi karena beliau orang baik, dan pantas bila diperlakukan secara baik. Dia sahabat Papa. Kau membuat sedih Papa karena sikapmu tidak baik kepadanya. Padahal dia belum pernah berbuat buruk kepadamu. Apa kau tidak malu? Kan Papa juga selalu baik kepada kawan-kawanmu. Mengapa kebaikan kauabalas dengan ketidakbaikan? Alasan harus mengena, karena itu yang diingat-ingat. Lebih baik anak belajar berbuat atau tidak berbuat sesuatu karena keikhlasan dan sifat keksatriaannya daripada karena motivasi takut melanggar suatu peraturan. Dan besarlah itu dampaknya pada cita rasa religiusnya terhadap Tuhan dan agama.
*Penulis adalah pemerhati masalah pendidikan, "meninggal dalam tugas" di seminar "Meningkat Peran Buku dalam Upaya Membentuk Masyarakat Indonesia Baru," 10 Februari 1999. Nukilan dari "Menumbuhkan Sikap Religius Anak-anak," halaman 53,55, Penerbit Gramedia.

Football News

 

© Copyright Berbagi Ilmu Pengetahuan Terbaru 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.