News Update :

Terbaru

Sayyang Patuddu’ : Sebuah Tradisi Suku Mandar yang Tak dimakan oleh Jaman

Tuesday, August 21, 2012




            Suku Mandar dulunya adalah salah satu etnis di Sulawesi Selatan. Namun sejak pemekaran yang menjadikan wilayah tersebut berdiri sendiri yaitu Provinsi Sulawesi Barat, Suku atau Etnis Mandar kemudian berdiri sendiri (sumber : berdasarkan lontarak kerajaan Mandar, bahwa Kerajaan Mandar adalah Kerajaan Merdeka).
            Banyak tradisi yang ditinggalkan oleh nenek moyang kerajaan Mandar. Namun dari sekian banyak tradisi tersebut, salah satunya adalah Sayyang Pattuddu’. Sayyang berasal dari bahasa Mandar yaitu kuda, sedangkan patuddu merupakan istilah yang bermakna menganggukkan kepala atau bergoyang. Dari makna tersebut menunjukkan bahwa tradisi ini melibatkan kuda yang bisa bergoyang.
            Sayyang Patuddu’ dilaksanakan sebagai ucapan syukur jika salah satu anak dari Suku Mandar berhasil menamatkan Al-Quran. Malamnya anak tersebut akan mengikuti beberapa ritual adat salah satunya memberikan barang-barang yang disukai oleh guru mengajinya sebagai ucapan tanda terima kasih. Hingga pada akhirnya untuk keesokan harinya ia akan menaiki kuda yang di arak keliling kampung.
            Kuda yang digunakan bukanlah kuda pada umumnya, namun kuda tersebut dihias dan telah dilatih khusus untuk bergoyang jika mendengar suara musik rebana. Anak yang telah tamat mengaji tidak akan menaiki kuda itu sendirian. Ia harus memiliki pendamping, yaitu seorang gadis yang masih perawan yang kemudian akan mengenakan baju adat Suku Mandar. Gadis tersebut haruslah berasal dari keturunan Mara’dia di kampung tersebut.
            Sebelum menaiki kuda yang telah disediakan, para gadis serta anak yang akan ditamatkan harus mendengar syair pantun Mandar yang dibacakan. Saat naik di atas kuda gadis yang dipilih sebagai pendamping tidak boleh langsung duduk, namun ia harus berdiri di atas kuda tanpa berpegang dengan apapun. Dimaksudkan sebagai tanda bahwa ia telah siap.
            Kuda-kuda yang telah dihiasi tersebut akan berjalan keliling kampung, diiringi musik rebana yang sangat hiruk pikuk. Secara otomatis kuda tersebut tidak hanya tinggal diam, ia akan mengikuti musik yang ia dengar dengan menggeleng-gelengkan kepala mereka.
            Pada zaman dulu, pendamping yang berasal dari gadis di desa tersebut sengaja di arak keliling kampung, untuk mengumumkan bahwa ada gadis belia yang belum menikah. Sehingga pemuda dapat melihatnya dan mengirimkan salam pada gadis tersebut.
            Tradisi ini sudah turun temurun di lakukan oleh Suku Mandar. Namun sudah tidak semua yang melaksanakannya. Sayyang patuddu’ ini masih rutin dilakukan oleh Suku Mandar yang berada di Desa Mappili dan sekitar kecamatan Mappilli dan sekitarnya.
           

"Balada Sumarah" Menunjukkan ketidakadilan di atas pentas


Kekayaan yang dimiliki negeri ini tidak menjamin dapat memberikan nasib yang baik bagi penghuninya. Semuanya bergantung pada tingkat sosial, harta, dan materi yang dimiliki. Keadilan di negeri ini masih saja menjadi ilusi dan fatamorgana di tengah gurun pasir.
Berawal dari sebuah ruang pengadilan, Sumarah wanita 37 tahun seorang TKW menyanyikan baladanya mengenai kehidupan yang kejam. Nama hitam yang diwariskan oleh ayahnya membuatnya menjadi pesakitan di negeri sendiri. Apakah ada yang akan mendengar balada kehidupan Sumarah? Akankah ia akan menerima vonis mati atas kesalahannya? Atau nasib masih sedikit memberikan senyum bagi Sumarah?

Sebuah Naskah Sebuah Cerita 

Naskah Balada Sumarah merupakan naskah tragedi. Dimana naskah ini menceritakan kisah hidup Sumarah seorang TKW yang di vonis mati karena kesalahannya membunuh majikannya. Di depan pengadilan dia sama sekali tidak ingin melakukan pembelaan, namun ia meminta kesempatan untuk sekedar menceritakan balada kehidupannya.
Dia menceritakan kisah hidupnya yang selalu saja mengalami ketidakadilan. Sejak kecil ia selalu di kucilkan dari lingkungan tempatnya tinggalnya, karena nama hitam ayahnya sebagai antek PKI yang pada saat itu diciduk. Namun sebenarnya ayahnya hanyalah seorang pekerja dan kusir biasa, namun ia hanya dijebak dan dituduh ikut bergabung dalam organisasi terlarang tersebut.
Oleh karena nama hitam yang diwariskan ayahnya itulah, kisah perjalanan hidup Sumarah tidak pernah mulus. Namun ia tidak pernah putus asa dan pesimis, ia tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk memperbaiki kehidupannya. Sumarah sangat percaya pentingnya pendidikan ia selalu menjadi siswa terbaik di sekolahnya dan lulus dengan nilai tertinggi. Namun pada akhirnya nasib orang kecil tetap harus membawa Sumarah pada posisi yang terdiskreditkan. Tidak ada kesempatan bagi Sumarah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak hanya karena tidak mendapatkan keterangan bersih dari PKI yang menyeret-nyeret nama ayahnya tersebut. Bahkan untuk masalah cinta pun , Sumarah tetap tidak bisa mendapatkan dambaan hatinya dengan alasan yang sama.
Sumarah hanya pasrah pada nasibnya tersebut, seorang siswa yang lulus dengan nilai tertinggi hanya bisa menjadi menjadi babu dan kuli karena nasib sebagai orang kecil. Karena untuk mendapatkan perlakuan yang layak butuh lembaran-lembaran selipan untuk mempermulusnya. Hingga akhirnya Sumarah memutuskan unuk menjadi TKW di Arab agar mendapatkan gaji yang layak seperti yang didengarnya dari teman sekampungnya yang pulang dari Arab.
Nasib masih saja mempemainkan Sumarah. Angan dan harapannya untuk menjadi lebih baik di negeri orang ternyata tidak seindah yang ia bayangkan. Di arab ia selalu diperlakukan kasar oleh majikannya. Bahkan pada akhirnya kehormatannya di renggut oleh majikannya sendiri.
Merasa selama ini selalu diperlakukan tidak adil di negeri sendiri dan di negeri orang lain, bahkan selalu disalahkan untuk sesuatu yang tak pernah ia lakuakan, Sumarah memutuskan untuk melakukan pembenaran atas segala tuduhan jelek yang selalu ditujukan padanya. Ia pada akhirnya membunuh majikannya dengan segala kemarahan atas nasib yang selalu mempermainkan orang kecil seperti dirinya.






Menggugat Sekolah Mahal

Monday, May 14, 2012


                       Menggugat Sekolah Mahal

Salah satu kebutuhan pokok manusia modern dewasa ini, selain sandang, pangan, dan papan, adalah pendidikan. Di zaman ini, bersekolah merupakan sebuah keniscayaan. Sekolah pada dasarnya merupakan bekal seorang anak manusia di masa depan agar ia menjadi manusia dewasa yang berilmu, beradab, dan mandiri.
Sejarah pun mencatat, perubahan sosial acap kali digerakkan oleh kaum terpelajar dan orang-orang terdidik yang memiliki tanggung jawab pada masyarakatnya. Pergerakan nasional kita yang berawal pada permulaan abad ke-20 merupakan akibat munculnya sejumlah kecil kaum muda terpelajar yang peduli pada nasib bangsanya, misalnya Dr. Sutomo, Dr. Wahidin Sudirohusodo, Suwardi Suryaningrat, Tirto Adi Suryo, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka.
Mereka ini merupakan produk politik etis Van Deventer, yang membuat segelintir lapisan elite kaum pribumi bisa mengecap pendidikan dan pada gilirannya terbuka matanya melihat penderitaan bangsanya yang terjajah.
Demikian pula dua kali pergantian kekuasaan yang ditandai tumbangnya rezim otoriter pada 1966 dan 1998 tak bisa dilepaskan dari peran gerakan mahasiswa.
Di zaman merdeka ini, selayaknya anak-anak bangsa mendapat kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan diri dan berbakti pada bangsanya di masa depan melalui pendidikan yang membebaskan. Namun, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Dunia pendidikan kita diruwetkan oleh sejumlah masalah, dari komersialisasi pendidikan, rendahnya tingkat kesejahteraan guru, penggusuran bangunan sekolah untuk dibuat lahan bisnis, praktek kekerasan dalam dunia pendidikan, hingga masalah pengangguran yang menghantui para lulusan sekolah.
Salah satu masalah yang juga mengemuka dari sistem pendidikan kita dewasa ini adalah orientasi pendidikan kita yang cenderung hanya mendorong para lulusannya menjadi objek dunia industri dan kapitalisme global, bukannya menjadi subjek mandiri yang berilmu dan berwawasan luas.
Hal-hal negatif dari sistem pendidikan seperti itu telah dicermati secara kritis oleh para pemikir pendidikan, seperti Ivan Illich dan Paulo Freire, dalam buku-bukunya yang telah diterjemahkan di sini, antara lain “Pendidikan Kaum Tertindas” (1984) dan “Politik Pendidikan, Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan” (2002). Sejumlah penulis lokal pun telah menulis kritik terhadap permasalahan pendidikan kita, antara lain Roem Topatimasang melalui bukunya “Sekolah Itu Candu” (1999) dan Francis Wahono dalam “Kapitalisme Pendidikan” (2004).
Persoalan-persoalan kelam dalam dunia pendidikan kita, terutama menyangkut betapa mahalnya biaya pendidikan kita dewasa ini, kembali dibahas secara kritis dalam buku “Orang Miskin Dilarang Sekolah!” karya Eko Prasetyo.
Membaca buku ini, kita disadarkan akan banyaknya kerancuan dan ketidakberesan dalam sistem pendidikan kita yang berujung tingginya biaya sekolah, sehingga banyak lapisan masayarakat berpenghasilan rendah tak mampu menjangkaunya. Akibat terburuknya adalah sulit terjadi lompatan sosial dan ekonomi dalam masyarakat, di mana mereka yang miskin terancam terus hidup melarat secara turun-temurun karena tak mampu menaikkan harkat hidupnya melalui pendidikan.
Seperti tersurat dalam buku ini, pendidikan seharusnya bisa diakses dengan biaya murah. Pendidikan harus bisa dijangkau oleh rakyat miskin. Posisi orang-orang miskin yang selama ini terlantar perlu dibangkitkan, dan negaralah yang pertama kali perlu mengambil tanggung jawab dengan melakukan langkah-langkah struktural yang sistematis. Pendidikan harus bisa menjadi sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia secara lahir-batin, yang pada gilirannya akan memajukan bangsa kita secara kolektif.
Eko mampu melengkapi buku ini dengan begitu banyak data yang dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk kliping koran. Buku ini menjadi makin menarik karena dilengkapi ilustrasi komik yang bagus, cerdas, dan komunikatif. Eko juga tak hanya pandai mengkritik. Dalam bagian akhir buku ini, ia mengusulkan sejumlah langkah nyata untuk mewujudkan sekolah murah, antara lain dengan merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN, pemotongan gaji para pejabat tinggi yang dialokasikan pada dunia pendidikan, menarik pajak pendidikan dari perusahaan-perusahaan besar, serta melakukan investigasi dan tindakan tegas terhadap semua pihak yang melakukan korupsi atas anggaran pendidikan.
Walaupun terkadang terasa agak provokatif, buku ini membuka mata kita bahwa ada sesuatu yang salah dengan sistem pendidikan kita, sehingga hanya orang-orang yang mampu secara ekonomi yang bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga setinggi-tingginya, dan bahwa ada sekian banyak penyimpangan yang perlu diluruskan dalam praktek dunia pendidikan kita selama ini.
Anton Kurnia, penulis buku “Dunia Tanpa Ingatan: Sastra, Kuasa, Pustaka” (2004) dan kumpulan cerpen “Insomnia” (2004)

8 tips Memikat hati wanita


1. Pujian
Ketika wanita tidak sempat menilai kriteria yang ada di kamu, disitulah letak keuntungannya. Kamu dapat melakukan ‘attraction’ tunjukan seolah-olah pribadi kamu adalah yang dicarinya. Perlakukan dia dengan pujian-pujian sederhana seputar penampilan fisiknya.
2. Menghargai
Menghargai adalah satu celah yang berguna untuk memikat wanita. Dia akan menghargai kamu ketika kamu berlagak seperti apa yang ada didiri kamu. Dia akan jengkel bila disuatu saat menemukan kejanggalan pada diri kamu kelak.
3. Be unpredictable (Surprise)
Buat kejutan-kejutan ringan ketika anda sedang kencan. Yang mungkin sering dilakukan pria sudah menjadi rahasia umum bagi wanita. Kamu harus memutar otak dengan memberikan kejutan-kejutan kecil diluar dari biasanya. Misalnya, ajak makan malam diatap rumah kamu, dsb.
4. Have a life
Salah satu yang paling disenangi kaum wanita adalah pria yang memiliki kehidupan yang baik dan positif. Hidup lurus dengan berbagai kegiatan yang positif dan menunjukan bahwa wanita bukan target satu-satunya dari kehidupan ini. Dengan begitu wanita akan menganggap anda pribadi yang istimewa.
5. Be mysterious man
Banyak pria yang melakukan kesalahan mengungkapkan jati dirinya kepada wanita yang sedang didekati. Jadilah pria misterius. Buat wanita terkecoh dengan penampilan kamu, ketika dia bertanya apakah jenis kendaraan kamu, langsung kamu jawab “aku hanya mengendarai sepeda motor butut”, padahal di ujung sana sedang menunggu supir pribadi kamu. Wanita bukan hanya mengagumi karakter kamu tetapi sense of humor juga menjadi daya tarik tersendiri.
6. Be cool
Perlihatkan kesibukan kamu didepannya tetapi jangan sok sibuk. Jawab secukupnya ketika dia menghubungi lewat telpon. Wanita akan penasaran dengan sifat kamu tersebut. Jangan terlihat bahwa kamu sedang mengejar dia.
7. Be chivalrous
Terlihat sopan merupakan daya tarik agar wanita tahu bahwa kamu adalah pria yang dicari. Membukakan pintu dan mempersilahkan duduk adalah persyaratan umum yang harus kamu tempuh. Perlihatkan bahwa kamu perhatian dan katakan bahwa ini adalah bagian dari diri kamu. Dia akan terkejut dan kagum.
8.Stay in control
Saat makan malam berdua, kamu sebagai lelaki tetap melakukan dengan tenang, jangan ada atraksi berlebihan yang justru akan membuat acara menjadi kacau balau. Tetaplah fokus pada acara yang kamu lakukan.

Ada Perang Di Dalam Batin

ADA PERANG DALAM BATIN

Senyum mengembang di wajah para guru SD Negeri II Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Bila mereka sudah bisa tersenyum, berarti ada sesuatu yang membahagiakan. Sebab, beberapa waktu lalu di bulan September, guru-guru di banyak daerah di Indonesia resah lantaran mereka belum menerima rapel gaji yang dijanjikan pemerintah."Kami bersyukur karena rapel gaji yang dijanjikan itu sudah dibayarkan. Besarnya lumayan sesuai dengan kepangkatan dan golongan," ujar seorang guru yang lebih suka disapa Ibu Ati di ruang kerjanya ketika ia sedang beristirahat bersama beberapa guru lainnya.

Sebagai guru, tuturnya, memang sungkan berbicara terbuka soal kesejahteraan. Sebab, seseorang menjadi guru adalah panggilan. Artinya, tidak semua orang suka memilih profesi ini."Tapi, ketika bangsa kita sudah masuk dalam era keterbukaan, dunia pendidikan sepertinya tidak mendapat perhatian sama sekali," ujarnya. Bahkan, masalah di bidang pendidikan dan persoalan yang dihadapi para guru sama sekali tidak ditengok. "Sebelum guru-guru berunjuk rasa, tahun lalu, kami sering mendiskusikan masalah tersebut. Jadi, guru-guru berunjuk rasa dengan maksud minta perhatian kepada masyarakat dan pemerintah agar lebih serius memperhatikan dunia pendidikan," tamdas Ati.

Seharusnya, menurut dia, ketika bangsa ini hendak menata kembali kehidupan sosial politiknya, benahi pula dunia pendidikannya. Artinya, pendidikan sudah saatnya bisa dengan mudah diperoleh sejak anak-anak, dan profesi guru mendapat penghargaan yang memadai. "Jadi dalam batin guru sebenarnya terjadi semacam perang," ungkapnya.

Dia menilai bahwa salah satu kelemahan pemerintahan Orde Baru adalah tidak menomorsatukan dunia pendidikan. "Tapi itu tidak mudah disampaikan secara terbuka karena pemerintah saat itu tak mudah menerima kritik," ujarnya.

Rasa prihatin paling hanya dinyatakan dengan mengelus dada, dan hal itu sudah dialami sejak memulai karier sebagai guru. Lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tahun 1985, yang kini sedang menyelesaikan studi tingkat sarjana keguruan, mengawali kariernya sebagai guru SD di Leuwi- liang, Kabupaten Bogor, pada tahun 1991. Dia tidak pernah membayangkan akan mengajar di sana. "Saya berharap, ketika itu, bisa mengajar di Bandung, Jawa Barat. Sebab, orangtua saya tinggal di kota itu,'' ujarnya. Tapi, semua sekolah di Bandung sudah penuh guru. Dia sempat melihat, di Leuwiliang masih dibutuhkan tenaga guru.

"Saya tidak menjatuhkan minat mengajar ke sana. Ketika itu, saya hanya menyampaikan lamaran untuk menjadi guru ke Pemda. Keputusannya, saya ditempatkan di Leuwiliang," tuturnya. Untuk mencapai tempatnya mengajar, dia harus lima kali berganti angkutan umum. "Gaji saya mengajar di sana Rp 75.000. Sedangkan untuk uang transpor sebesar Rp 5.000 per hari. Jadinya kan saya justru menombok," kenangnya. Tapi, dengan segala kesabaran dan upayanya, dia bisa bertahan selama tiga tahun. "Sebagai guru, saya tertantang untuk mengajar di situ. Kebanyakan murid-murid di SD itu benar-benar tertinggal. Anak-anak bersekolah apa adanya, bahkan banyak yang tak beralas kaki," ujarnya.

Setelah itu, atas permohonannya, ia dipindahkan ke SD Negeri II Bojong Gede. Di situ dia mengajar sebagai guru honorer selama setahun, dan kemudian diangkat menjadi guru dengan status Pengawai Negeri Sipil dengan gaji tetap.

Kini, sudah enam tahun dia mengajar di Bojong Gede. Sebenarnya lingkungan di situ tidak jauh beda dengan di Leuwiliang. Sekolah tempatnya sekarang mengajar terletak tak jauh dari areal persawahan dan dekat lintasan Kereta Rel Listrik Jakarta-Bogor. "Bisa Anda bayangkan, betapa berisiknya ketika KRL itu mondar-mandir pada pagi hari hingga sore hari," kata dia. Soal suara kereta yang bising tersebut, menurut dia, masing-masing guru punya cara untuk mengatasinya. "Kalau saya, kondisi itu tak mungkin dielakkan. Bila sedang menerangkan, kereta lewat, ya saya hentikan sejenak. Makin sering kereta itu lewat, ya berarti semakin banyak istirahat saya," guraunya.

Dengan pengalamannya sudah mengajar di dua tempat, dia mendapat kesan, setiap lingkungan sekolah memiliki kekhasannya. Dengan kekhasannya itu -- yang terjadi karena faktor lingkungan, kondisi masyarakat dan gaya pimpinan sekolah -- tak perlu adanya sekolah favorit dan tak favorit. "Saya menyayangkan masyarakat justru semakin mempertajam hal itu. Seharusnya perjuangkanlah agar sistem pendidikan di negara kita semakin baik," ucapnya. Semua guru di setiap sekolah, termasuk di SD yang letaknya di pelosok sekalipun, berkeinginan anak didiknya pandai.

"Keinginan itu yang tertanam dalam setiap benak guru. Mana ada guru yang berniat membodohi murid-muridnya," kata Ati. Atas dasar keinginan itu, tuturnya, setiap guru berupaya meningkatkan pengetahuan dan wawasannya.

Di tempatnya mengajar, semua guru berupaya meningkatkan pengetahuan dan wawasannya dengan belajar mandiri sebagai mahasiswa Universitas Terbuka. "Kegiatan ini memang diserahkan sepenuhnya kepada para guru untuk memilihnya," jelasnya. Soal biaya, menurut Ati, para guru sendiri yang menanggungnya.

Dia sebenarnya menyayangkan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dihapuskan. "Keberadaan sekolah itu tak bisa disepelekan. Sebab, di situlah lahir para guru yang kelak mengajar di Taman Kanak-kanak (TK), dan SD. Di situ para calon guru dilatih cara mengajar tingkat dasar," tuturnya.

Ati menduga, makin maraknya tawuran pelajar adalah akibat cara mengajar yang salah. Lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) belum tentu seterampil lulusan SPG dalam teknik mengajar. "Bila guru salah dalam cara mengajar membuat anak didiknya justru bersikap negatif. Sikap itu semakin tak menguntungkan manakala orangtuanya juga memaksanya harus naik kelas dan lulus hingga SLTA," katanya.

sDi masa mendatang, Ati berharap, pemerintah memprioritas pembangunan bidang pendidikan, khususnya pendidikan dasar. Anggaran negara, baik pemerintah pusat maupun daerah, untuk bidang pendidikan sebaiknya dinaikkan bagi pembangunan gedung SD atau peningkatan kualitas gurunya. (Suara Pembaruan 300901)

Gerakan Sosial Baru Rakyat Porsea

                                                       Gerakan Sosial Baru Rakyat Porsea

Jakarta, Kompas -  Gerakan perlawanan rakyat Porsea di Toba Samosir, Sumatera Utara, menolak pabrik pulp PT Inti Indorayon Utama adalah contoh gerakan sosial baru. Gerakan ini bercirikan kelompok lokal yang tidak terkait dengan partai politik, tak mengutamakan isu tertentu, dan merupakan ekspresi protes atas ketidakadilan sosial yang dialami.

Gerakan yang terorganisasi dan berorientasi pada perubahan tatanan sosial yang menyeluruh itu menjadi bahan disertasi Victor M Silaen yang dipertahankannya dalam sidang terbuka Senat Akademik Universitas Indonesia di Jakarta, Rabu (5/1). Victor M Silaen lulus dengan predikat sangat memuaskan dan menjadi doktor baru di bidang Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Gerakan rakyat Porsea juga dapat dilihat sebagai unsur utama dalam proses memperkuat civil society di masa mendatang, khususnya di Toba Samosir. Kelak, dengan menguatnya civil society, demokratisasi niscaya semakin berkembang. Apalagi, gerakan sosial baru ini tidak mengandalkan massa sebagai kekuatannya.

Modifikasi
Victor menyatakan, teori-teori gerakan sosial baru sebagaimana yang diajukan para ahli perlu dimodifikasi. Sebelumnya dikatakan, keanggotaan dalam gerakan sosial baru bersifat terbuka tanpa menghiraukan latar belakang kelas sosial, etnisitas, politik, maupun agama. Gerakan sosial baru dapat dikategorikan sebagai perkumpulan inklusif, sesuai dengan prasyarat utama civil society.

Memang gerakan sosial baru rakyat Porsea bersifat nonkelas dan tidak menghiraukan latar belakang agama. Akan tetapi, dalam etnisitas, gerakan rakyat Porsea, Toba Samosir, dan sekitarnya ini justru menunjukkan bahwa ikatan kekerabatan dan ikatan kampung halaman di antara mayoritas anggota gerakan ini (Batak) telah berfungsi sebagai "energi" untuk menghimpun dan mempersatukan mereka. (LOK)

Global Warming

      Global Warming

One of the biggest problems facing the world today is global warming.
Many experts believe that our production of carbon dioxide and other
greenhouse gases is heating the atmosphere, and this could be very dangerous
for human life. This essay will examine the problem of global warming and
suggest some solutions for it.
Many problems could result from global warming. One of the biggest is
rising sea level. This could result in the flooding of low lying coastal areas and
cities, such as Egypt, the Netherlands, and Bangladesh. Another problem is
changes in weather patterns. Many areas of the world are experiencing
increased hurricanes, floods, and other natural disasters. A final issue
associated with this phenomenon is the negative effect on animals. Fish
populations could be effected, while some insects which spread disease might
become more common.
There are several things we can do to deal with global warming. One
answer is to stop making C02. We can do this by switching from oil, coal and
gas to renewable energy. A second solution is to plant more trees. Trees absorb
C02 and produce oxygen, which is not a greenhouse gas. A third idea is to use
less energy and recycle more products. If we use less energy and are more
environmentally friendly, the earth’s temperature may not rise too much.
In conclusion, making small changes now in the way we live means
avoiding huge changes in the future. Scientists, governments and individuals
must work together to overcome this serious
threat.

Football News

 

© Copyright Berbagi Ilmu Pengetahuan Terbaru 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.